Karakteristik
Lobster air tawar termasuk hewan yang memiliki sifat kanibalisme yaitu, suatu sifat yang suka memangsa jenisnya sendiri. Sifat ini mulai muncul sejak lobster masih kecil. Pada fase juvenil lobster sering menunjukan sifat agresif yang tinggi dan berprilaku kanibal. Sifat kanibal ini akan lebih nyata terjadi pada saat tidak tersedia pakan yang memadai dan menyebabkan kematian. Mortalitas dipengaruhi faktor dalam dan faktor luar. Faktor luar meliputi kondisi abiotik, kompetisi antar spesies, tinggi jumlah populasi dalam ruang gerak yang sama, dan kurangnya makanan yang tersedia.
1. Sifat Kanibal
Lobster
air tawar termasih jenis binatang omnivora, dimana kebiasaan nyata yang
sering dilakukannya adalah mengkonsumsi udang-udang kecil yang hidup di
habitatnya atau memangsa hewan anggota lobster itu sendiri, sehingga
lobster memiliki sifat kanibal. Lobster aktif mencari makan pada malam
hari (nokturnal), sedangkan pada siang hari aktifitas sedikit atau lebih
banyak berdiam diri. Hewan ini di habitat aslinya makan dari hewani,
seperti cacing tanah, cacing air, plankton, juga dari tumbuhan (fito),
seperti lumut akar selada air. Dalam wadah budidaya lobster air tawar
biasa makan keong mas, daging ikan, cacing darah (blood worm), potongan
daging segar, kentang, ubi-ubian, kacang hijau dan lain-lain. Pakan
buatan yang dimakan lobster air tawar adalah jenis pelet udang galah.
2. Berganti Kulit/ Moulting
Pada saat tubuh bertambah besar maka cangkang sudah tak cukup lagi untuk
menutup bagian tubuh itu, sehingga cangkang itu harus dibuang,
terkelupas dengan sendirinya, kemudian berganti dengan cangkang yang
baru yang lebih muda, dan elastis. Ini hanya terjadi pada udang, dan
proses ini disebut dengan istilah moulting.
Dalam siklus hidup lobster, pertumbuhan hanya terjadi di bagian tubuh saja, tidak terjadi dengan cangkangnya. Cangkang tidak akan muat ketikan tubuh lobster semakin bertambah besar. Oleh sebab itu, lobster perlu membuang cangkangnya dan mengganti dengan cangkang yang baru. Karena pertumbuhan terus terjadi, maka moultingpun akan terus terjadi. Selama hidupnya, lobster mengalami moulting hingga puluhan kali. Moulting mulai terjadi pada umur 2 -3 minggu. Frekwensi tertinggi terjadi sebelum loster dewasa, berumur 6 – 7 bulan, dibanding dengan lobster yang sudah dewasa. Lobster dewasa terutama induk jantan maupun betina akan moulting lagi setelah 2 – 3 kali melakukan perkawinan.
Dalam siklus hidup lobster, pertumbuhan hanya terjadi di bagian tubuh saja, tidak terjadi dengan cangkangnya. Cangkang tidak akan muat ketikan tubuh lobster semakin bertambah besar. Oleh sebab itu, lobster perlu membuang cangkangnya dan mengganti dengan cangkang yang baru. Karena pertumbuhan terus terjadi, maka moultingpun akan terus terjadi. Selama hidupnya, lobster mengalami moulting hingga puluhan kali. Moulting mulai terjadi pada umur 2 -3 minggu. Frekwensi tertinggi terjadi sebelum loster dewasa, berumur 6 – 7 bulan, dibanding dengan lobster yang sudah dewasa. Lobster dewasa terutama induk jantan maupun betina akan moulting lagi setelah 2 – 3 kali melakukan perkawinan.



Comments
Post a Comment